Agribisnis pesantren
Jika bicara tentang pesantren, maka kita akan langsung teringat dengan ilmu agama, santri, kyai atau kobong bahkan kastrol. Tidak sekali pun terlintas bahwa pesantren dengan segala sumberdayanya merupakan salah satu potensi agribisnis unggulan.
Padahal, khususnya pesantren tradisional yang dipimpin oleh Kyai yang biasanya memiliki sebidang tanah atau sawah. Dalam keseharian selain mengaji para santri juga memiliki kewajiban membantu Kyai menggarap kebun atau sawah yang hasil pertaniannya dikonsumsi oleh Kyai sekeluarga dan para santri tentunya. Mengingat di pesantren tradisional, para santri yang mondok biasanya tidak dipungut biaya apa pun.
Selain untuk kepentingan kegiatan pesantren, pengalaman bertani di sawah dan kebun Kyai juga akan menjadi bekal hidup santri kelak setelah terjun di masyarakat. Saat pulang ke desa masing-masing selain menjalankan dakwah, para santri juga telah mampu menghidupi dirinya sendiri minimal dengan cara bertani. Itulah pola umum yang berlaku di kalangan pesantren tradisional.
Dari Jawa Barat kita pasti pernah mendengar tentang 2 pesantren yang memang telah secara fokus menjadikan agribisnis sebagai sumberdaya ekonomi untuk menunjang kebutuhan pesantren yaitu Al-Ittifaq di Bandung dan Darul Fallah di Bogor. Bahkan Kyai Fuad Affandi dari Pesantren Al-Ittifaq pernah menjadi pembicara pada saat Kongres Gerakan Pemuda Ansor di Pesantren Al-Hikamussalafiyah Cipulus Kabupaten Purwakarta.
Dari berbagai program pemerintah, baik dari bidang pertanian, pendidikan, perindustrian maupun departemen agama tidak pernah membuat program terintegrasi antara pendidikan pesantren dan ekonomi pertanian. Mungkin saatnya bagi para anggota KTNA di tiap desa, untuk mulai menyentuhnya, karena kekuatan swadayalah yang paling memungkinkan untuk merealisasikannya. Wallahu'alam.
(enjs)
Posting Komentar untuk "Agribisnis pesantren"